Tentang Kami

Pendiri

562685_3701903784722_2049347616_n“ISMAIL” lahir di Deli Serdang pada 14 Oktober 1980 yang lalu. Bersekolah di Medan sejak pendidikan dasar dan meraih Master Komunikasi Lingkungan dari University of Texas at ElPaso (UTEP). Ismail, menamatkan S1 bidang Kehutanan di Universitas Sumatera Utara pada tahun 2006. Sejak kuliah sering menjadi relawan pada program-program konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan di Propinsi Sumatera Utara dan Aceh. Pada tahun 2008 ia mendirikan PILAR INDONESIA. PILAR INDONESIA adalah lembaga non-profit yang bekerja untuk pendidikan lingkungan dan pemerdayaan masyarakat. Melului organisasi ini Ismail mulai melakukan pendampingan dan pemberdayaan kepada para petani dan nelayan untuk membantu mereka meningkatkan taraf hidup. Dan pada tahun 2012 ia mendirikan program Rumah Baca Bakau untuk masyarakat pesisir Percut, Kabupaten Deli Serdang-Sumatera Utara.

Rumah Baca Bakau

Logo PILAR-final

Saat ini Rumah Baca Bakau (RBB) merupakan program utama PILAR INDONESIA yang dipimpin oleh Ismail. Rumah Baca Bakau merupakan inisiatif untuk mengabdi dan berbagi kepada anak-anak nelayan di pesisir Percut, Kabupaten Deli Serdang, berdiri dan mulai beroperasi sejak Bulan Juli 2012.

Rumah Baca Bakau adalah Pusat Informasi lingkungan dan Taman Bacaan yang menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan melalui penyediaan buku-buku dan bahan informasi lainnya bagi anak-anak nelayan di pesisir Percut. Rumah Baca Bakau merupakan ruang belajar, bermain dan berbagi untuk anak-anak nelayan dan penduduk pesisir Percut.

Rumah Baca Bakau ibarat perahu nelayan yang ingin mengarungi lautan guna menuju samudera pengetahuan yang lebih luas. Di rumah baca ini, anak-anak saling menyelami dan memaknai kata “BACA” yang berarti belajar tiada henti. Saat wawasan dan pengetahuan mengiringi pertumbuhan kehidupan anak-anak nelayan di pesisir Percut, maka akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas dan berani meraih mimpi dan cita-cita mereka.

Menumbuhkan minat baca adalah awal untuk membentuk masyarakat yang pintar, cerdas dan peduli terhadap kehidupannya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Stigma bahwa kebanyakan masyarakat pesisir hidup dalam keterbelakangan, bodoh, miskin dan cenderung pragmatis membuat tak banyak kepedulian hadir di tengah-tengah kehidupan anak-anak nelayan ini, maka untuk itulah Rumah Baca Bakau berdiri yang berusaha menjadi “pilar” untuk mendorong dan membangun masayarakat yang cerdas dengan memberikan akses pelayanan terhadap buku dan ruang berkembang bagi anak-anak nelayan di pesisir Percut.

Bukan sekedar perpustakaan, Rumah Baca Bakau juga memiliki berbagai kegiatan yaitu ; klub baca, kelas kreativitas, kelas bahasa inggris untuk anak, kelas menggambar dan mewarnai, perpustakaan keliling, pemutaran film, mangrove centre dan kelompok diskusi nelayan. Rumah Baca Bakau didukung dan dijalankan bersama para pemuda desa Percut dan para relawan.(ip)